Berkreasi Dengan TIK

Hayy..."Blog ICT yunior High School 1 Baso...Cayhooo :-)"

Kamis, 07 Juli 2022

AKSI NYATA MODUL 3.3

 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

OLEH : FITRIA

CGP Angkatan 4, Kab. Agam

 

FACT (Peristiwa)

Latar Belakang

Filosofi Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa anak-anak hidup dan tumbuh sesuai dengan kodratnya sendiri, pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodratnya itu. Dengan demikian, dituntut kejelian pendidik melihat bakat, minat, potensi serta kreativitas anak dan apa yang dibutuhkan anak di dalam pembelajaran sehingga guru bisa mengemas pembelajaran yang berpihak pada murid.

Kita semua tahu dan sepakat bahwa murid-murid kita dapat melakukan lebih dari sekedar menerima instruksi dari guru. Mereka secara natural adalah seorang pengamat, penjelajah, penanya, yang memiliki rasa ingin tahu atau minat terhadap berbagai hal. Mereka mampu atau memiliki kapasitas untuk mengambil bagian atau peranan dalam proses belajar mereka sendiri. Namun, terkadang guru atau orang dewasa memperlakukan murid-murid seolah-olah mereka tidak mampu membuat keputusan, pilihan, atau memberikan pendapat terkait dengan proses belajar mereka.

 Untuk menjadikan murid sebagai pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri, maka kita guru perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik. Peran kita adalah mendampingi murid agar pengembangan potensi kepemimpinan mereka tetap sesuai dengan kodrat, konteks dan kebutuhannya, serta mengurangi kontrol terhadap mereka.

Berdasarkan kutipan dan pernyataan di atas, dengan dipadu pemanfaatan aset atau sumber daya yang ada di sekolah dan setelah berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan  sekolah maka saya membuat program yang berdampak pada murid SMP Negeri 1 Baso, yaitu “Pengembangan Bakat dan Potensi Siswa di Bidang Olahraga dalam Bentuk Classmeeting”.  Hal ini juga merupakan antusias dari murid untuk melakukan penyegaran pikiran setelah mereka menempuh ujian semester dan ingin menyalurkan dan mengembangkan bakat dan potensi mereka dibidang olah raga untuk memanfaatkan waktu menjelang mereka terima rapor.

Yang dilakukan pada aksi nyata dan alasan melaksanakan aksi nyata

Bertolak dari latar belakang di atas, aksi nyata 3.3.a.10 “Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid” merupakan langkah dan upaya saya lakukan untuk mengimplementasikan apa yang sudah didapat pada guru penggerak secara bertahap dan sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Setelah itu, saya ingin berbagi ilmu dan pengalaman dengan rekan guru atau komunitas praktisi di sekolah  agar mereka mampu merancang program yang berpihak pada murid yang bisa dimulai dari hal-hal yang terkecil terlebih dahulu. Kemudian, melalui program yang sudah saya rencanakan melalui tahapan BAGJA pada sesi demonstrasi kontekstual dengan judul “Pengembangan Bakat dan Potensi Siswa di Bidang Agama dan Olahraga dalam Bentuk Classmeeting”

Adapun alasan saya melakukan aksi nyata ini adalah untuk:

  • Menggali, menyalurkan dan mengembangkan bakat  serta  potensi siswa di bidang olah raga.
  • Meningkatkan kreativitas siswa.
  • Menjalin silaturrahmi dan menggalang rasa persatuan serta sportivitas antar kelas/siwa SMP Negeri 1 Baso.
  • Sebagai ajang pencarian bibit untuk ikut berkompetisi di bidang olah raga dan agama
  • Mengendorkan urat saraf/penyegaran pikiran setelah mengikuti ujian semester.

Jadi, kegiatan dalam bentuk classmeeting ini, dapat menumbuhkembangkan  kepemimpinan murid dan mendorong mereka untuk:

  • Mampu mengambil kepemilikan dan tanggung jawab atas proses pembelajaran sendiri.
  • Memiliki suara dan pilihan atas apa yang akan mereka pelajari, bagaimana mereka belajar dan mengorganisir pembelajaran mereka.
  • Dapat memilih arah dan cara mencapai tujuan pembelajaran sendiri.

Dalam kegiatan ini, guru hanya sebagai fasilitator yang memberikan bimbingan dan arahan agar bakat dan potensi yang dimiliki murid dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat yang dimilikinya.

Program Pengembangan Bakat dan Potensi Siswa di Bidang Agama dan Olahraga dalam Bentuk Classmeeting” ini, telah saya koordinasikan terlebih dahulu dengan kepala sekolah dan juga kepada Pembina OSIS serta guru PAI dan olahraga.

Berkoordinasi dengan kepala sekolah merupakan langkah awal dalam pelaksanaan program/kegiatan sekolah. Karena dengan persetujuan beliaulah semua kegiatan kita dapat terlaksana sesuai dengan yang diharapkan dan kepala sekolah juga merupakan salah satu sumber daya yang dapat kita berdayakan potensi/kekuatannya dalam hal apapun. Selanjutnya, kami melakukan diskusi dengan pembina OSIS, guru PAI dan  guru olahraga untuk mendiskusikan apa saja sumber daya yang dapat diberdayakan untuk membantu siswa menjalankan program atau kegiatan classmeeting yang sudah direncanakan. Kami juga ingin merubah pola pelaksanaan program sekolah yang selama ini murid hanya menerima instruksi dari murid untuk menjalankan program, akan tetapi kali ini muridlah yang mengambil bagian atau peranan dalam menjalankan kegiatan tersebut. Pemeran utama dari program atau kegiatan tersebut adalah murid bukan lagi guru. Dalam hal ini, kami juga meminta bantuan wali kelas untuk menggali bakat dan potensi yang mereka miliki dibidang olahraga dan hal-hal apa saja yang bisa membuat kegiatan itu dapat menyenangkan dan memuaskan bagi mereka melalui pertanyaan yang telah disiapkan terlebih dahulu.

Kegiatan selanjutnya, curah pendapat (membuka cakrawala berpikir siswa sebelum mengambill keputusan). Kami memberikan ruang curah pendapat dengan murid-murid (Pengurus OSIS dan perwakilan murid tiap kelas) untuk membuka cakrawala berpikir mereka bahwa ada berbagai pilihan yang dapat dijadikan bahan pertimbangan sebelum menentukan sebuah keputusan dari data yang didapat oleh wali kelas dan guru olahraga sebelum menjalankan program atau kegiatan tersebut. Yang pada akhirnya, mereka bisa mendapatkan aspirasi (mewujudkan harapan atau impian) tentang kegiatan yang dapat mengembangkan bakat dan potensinyas di bidang olahraga yang lebih menarik dan menyenangkan bagi mereka.  Mereka berbagi peran untuk menjalankan program yang telah dibuat dalam bentuk  kepanitiaan kegiatan classmeeting yang telah disusun berdasarkan kesepakatan mereka bersama.Sehingga mereka merasakan kemampuan mereka diakui oleh sekolah, khususnya bagi teman-temannya yang lain.

Foto





Hasil AKsi Nyata

 Program classmeeting yang diusulkan disetujui oleh kepala sekolah dan warga sekolah untuk menjadi program sekolah yang berdampak pada murid melalui rapat dinas. Pada akhirnya, program tersebut bisa dijalankan oleh pengurus OSIS yang sudah disusun kepanitiaanya dan mereka bekerja sesuai dengan peran yang sudah mereka sepakati bersama.

 Foto kegiatan classmeeting dengan pertandingan olah raga 






Foto Classmeeting Pertandingan Basket




Foto Pembagian Hadiah




Program classmeeting berjalan dengan lancar. Semua murid antusias untuk ikut serta dan memeriahkan kegiatan tersebut. Karena sambil menunggu hasil belajar mereka selama 1 (satu) semester mereka bisa memanfaatkan waktu dengan bermanfaat. Mereka bisa menyalurkan, mengembangkan, dan meningkatkan kreativitas, bakat dan potensi mereka dalam bidang olahraga dan agama.

Setelah pelaksanaan classmeeting selama 3 hari, sebagai penghargaan bagi mereka yang sudah berpartisipasi mengikuti pertandingan di bidang olahraga dan tahfidz pihak sekolah memberikan hadiah untuk mereka sesuai dengan bidang olahraga yang mereka ikuti. Adapun, hadiah tersebut ditentukan dan disepakati oleh mereka sendiri dari pengurus OSIS selaku panitia kegiatan. Karena merekalah yang tahu apa hadiah yang menarik dan menyenangkan bagii mereka.

FEELING (Perasaan)

Perasaan saya ketika akan melaksanakan program ini pada awalnya masih ragu, karena semua yang berperan dalam menjalankan program ini adalah murid. Selama ini yang berperan setiap kegiatan sekolah itu biasanya guru, sedangkan siswa hanya menerima dan menjalankan instruksi dari guru. Akan tetapi, rasa keraguan tersebut menjadi gembira karena ternyata program/kegiatan classmeeting yang sudah direncanakan berjalan dengan lancar. Saya pun merasa bangga dan senang sekali karena saya sudah mulai bisa menumbuh kembangkan kepemimpinan murid (dari aspek voice, choice, dan ownership) serta karakteristik lingkungan   melalui program yang sudah dirancang dan berdampak pada murid.

FINDING (Pembelajaran)

Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan keseluruhan aksi bagi murid saya adalah mereka bisa menyalurkan, mengembangkan, dan meningkatkan bakat dan potensi yang dimiliki untuk mencapai wellbeing. Dengan demikian murid menjadi mampu mengarahkan pembelajaran mereka sendiri, membuat pilihan-pilihan, menyuarakan opini, mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan rasa ingin tahu, berpartisipasi dan berkontribusi pada komunitas belajar, mengkomunikasikan pemahaman mereka kepada orang lain, dan melakukan tindkan nyata sebagai hasil proses belajarnya. Sedangkan pembelajaran yang dapat saya peroleh dari keseluruhan aksi adalah saya mampu memahami dan mengidentifikasi bentuk-bentuk program yang berpihak pada murid; mengidentifikasi tahapan membuat program, memahami dan membuat  proses perencanaan program yang berdampak pada murid; dan mendapatkan pengalaman baru serta membuka cakrawala berpikir yang lebih luas lagi serta mengedepankan perencanaan program yang berdampak pada murid.

Dan tak kalah pentingnya, murid sudah mulai mampu bertindak secara aktif dan membuat keputusan serta pilihan yang bertanggung jawab, daripada hanya sekedar menerima apa yang ditentukan oleh orang lain. Dengan kata lain, saya sudah mampu menumbuhkembangkan kepemimpinan murid melalui program yang sudah dirancang. Melalui pelaksanaan aksi secara keseluruhan siswa juga dapat memupuk rasa persatuan dan bekerjasama dalam mencapai suatu tujuan serta mengembangkan kreativitas dan sikap-sikap positif murid serta mandiri (terwujudnya profil peljar pancasila).

FUTURE (Penerapan ke depan)

Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang tentang aksi secara keseluruhan adalah memberikan kesempatan kepada murid untuk menyalurkan, mengembangkan, dan meningkatkan bakat dan potensi mereka pada kegiatan classmeeting tidak hanya dibidang olahraga saja, tetapi dibidang lain juga ada, misalnya dibidang kesenian dan bidang lain sebagainya. Sehingga murid yang berbakat dibidang selain olahraga pun bisa menyalurkan, mengembangkan, dan meningkatkan bakat serta potensi mereka. Kemudian, keterlibatan wali kelas serta guru lainnya untuk memberikan support atau dukungan sewaktu murid berpartisipasi aktif dalam menjalankan program yang telah dibuat.


SEKIAN TERIMA KASIH

SALAM GURU PENGGERAK!

AKSI NYATA MODUL 3.2















SALAM GURU PENGGERAK!!


















 

AKSI NYATA MODUL 3.1

Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Oleh :

FITRIA

CGP Angkatan 4

Kabupaten Agam


Melalui modul yang sudah dipelajari tentang Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran, Calon Guru Penggeraknya (CGP) diminta membuat portofolio aksi nyata berdasarkan rancangan yang sudah dibuat pada tahap demonstrasi kontekstual sebelumnya. Portofolio yang disusun menggunakan metode refleksi 4P, yaitu Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, dan Perubahan.

Berdasarkan rancangan yang telah dibuat, saya pun melakukan serangkaian aksi nyata. Aksi nyata tersebut adalah sebagai berikut:

PERISTIWA (FACTS)

Deskripsi singkat untuk aksi nyata yang sudah dilakukan, yaitu:

1.    Latar Belakang tentang Situasi yang Dihadapi

Pengambilan sutau keputusan yang efektif merupakan salah satu tugas tersulit yang harus diemban oleh seorang pemimpin pembelajaran. Hal tersebut juga dialami di sekolah saya. Bukan saja dialami oleh Kepala Sekolah melainkan warga sekolah lainnya termasuk guru. Karena guru adalah seorang pendidik sebagai pemimpin pembelajaran yang juga senantiasa harus jeli dan bijaksana dalam mengambil keputusan yang berpihak pada murid. Kenyataan menunjukkan bahwa masih ada rekan guru yang belum memahami perbedaan antara kasus yang tergolong dilema etika atau bujukan moral dalam pengambilan keputusan. Selain itu masih banyak juga yang belum memahami tentang langkah-langkah yang tepat dalam pengambilan keputusan. Tidak jarang beberapa keputusan yang diambil masih kurang tepat. Oleh karena itu, memerlukan upaya untuk meningkatkan pemahaman warga sekolah (terutama guru) terkait pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Guru merupakan seorang pendidik yang menjadi panutan/teladan bagi murid. Perlakuan berlandaskan nilai-nilai kebajikan universal dalam pengambilan suatu keputusan terhadap murid akan menjadi tolak ukur dan keteladanan bagi murid. Dengan demikian, guru harus memiliki keterampilan dalam pengambilan keputusan yang tepat sebagai pemimpin pembelajaran, terutama yang berdampak pada murid.

2.    Alasan Melakukan Aksi Tersebut

Aksi nyata 3.1.a.10 “Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran” merupakan langkah dan upaya yang saya lakukan untuk mengimplementasikan apa yang sudah didapat pada program guru penggerak secara bertahap dan sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Kemudian saya ingin berbagi ilmu dan pengalaman dengan rekan guru atau komunitas praktisi di sekolah saya agar mereka juga bisa menerapkan pengambilan keputusan yang efektif dan berpihak pada murid agar murid merasa aman dan nyaman baik di lingkungan sekolah maupun dalam kelasnya (proses pembelajaran). Selain itu, saya juga berbagi ilmu dan pengalaman dengan murid-murid saya agar mereka dalam mengambil keputusan juga harus jeli dan teliti serta tepat sasaran. Dengan berbagi pengetahuan dan pengalaman akan berpengaruh bagi murid kita dalam hal contoh praktik pengambilan keputusan yang efektif dan bijaksana. Kita pun bisa menuntun mereka ke arah yang lebih baik dalam sewaktu mereka akan mengambil atau memutuskan sesuatu kasus atau permasalahan yang mereka hadapi. Hal itu juga menuntun mereka agar lebih mandiri dalam mengambil suatu keputusan.

3.    Hasil Aksi Nyata yang Dilakukan

1)      Berkoordinasi dengan Kepala Sekolah

Berkoordinasi dengan Kepala Sekolah merupakan suatu hal yang sangat penting bagi saya. Karena di samping Kepala sekolah sebagai pimpinan di sekolah, ia juga saya juga   pendukung utama saya semenjak saya mengikuti pelatihan guru penggerak. Dia juga sering  memberikan dorongan atau motivasi selama saya menjalankan Program Pendidikan Guru Penggerak. Saya melakukan aksi nyata ini sebagai bentuk tugas dan tanggung jawab saya sebagai guru atau pemimpin pembelajaran. Selain itu, juga untuk mendapatkan dukungan dalam pelaksanaan aksi nyata yang sudah dirancang sebelumnya. Ternyata, Kepala Sekolah saya menyetujui semua rancangan yang sudah saya buat. Pada awal sekolah saya menemui beliau dan sekaligus minta izin untuk mengadakan sosialisasi dengan warga sekolah.

2) Melakukan sosialisasi tentang “Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran”

Pada minggu pertama awal sekolah setelah Idul Fitri, saya mengadakan sosialisasi tentang materi “Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran” dengan komunitas praktisi dan murid-murid. Jadi diharapkan semakin banyak  rekan guru yang terinspirasi dan termotivasi mengenai apa yang sudah di dapat pada program guru penggerak. Langkah pemberian sosialisasi di sekolah secara langsung  saya ambil untuk menguatkan pemahaman tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Hal ini mengingat pemahaman tentang pengambilan keputusan secara efektif ini masih membutuhkan penguatan secara langsung kepada warga sekolah, terutama guru dan murid-murid di sekolah. Hasil dari aksi ini adalah adanya pemahaman kepada mereka tentang bagaimana langkah mengambil suatu keputusan bagi guru yang berpihak pada murid dan bagi murid dapat menuntun mereka dalam mengambil keputusan secara efektif dan mandiri yang bermanfaat buat masa depan mereka kelak hidup sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Foto







3) Membuka Ruang Diskusi Positif dan Ruang Kolaboratif Antar Guru

Dalam kegiatan ini kami berkolaborasi dalam hal menganalisis kasus yang ditemui rekan guru. Saling memberikan masukan terhadap kasus yang ditemui rekan guru agar berpihak pada murid dan keputusan yang mereka ambil tidak salah sasaran atau kurang tepat. Selain itu, kegiatan ini bertujuan memberikan kemudahan kepada rekan sejawat untuk menjalani proses pembelajaran yang berpihak pada murid sehingga tercipta pembelajaran yang membuat murid aman dan nyaman dan terwujudnya pembelajaran yang memerdekakan murid. Kemudian kami juga melakukan pertemuan evaluasi dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana penerapan pengambilan keputusan oleh rekan sejawat, termasuk kendala yang dihadapi. Hasil kegiatan ini adalah tergambarnya keberhasilan dan kendala yang ada. Hal ini juga sekaligus untuk mengukur efektivitas keberhasilan pengambilan keputusan.

4) Penerapan Pengambilan Keputusan

Selain memberikan contoh-contoh kepada rekan guru tentang pengambilan keputusan, saya juga menjelaskan penerapan pengambilan keputusan menggunakan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan ketika dihadapkan pada situasi dilema etika yang pernah terjadi.

a. Kasus

Afif adalah siswa kelas VIII. Afif selalu datang terlambat ke sekolah, baik pada hari senin pada saat pelaksanaan upacara bendera begitupun dengan hari lainnya. Afif telah dipanggil dan ditanya apa alasannya terlambat datang, afif selalu beralasan karena masalah transportasi. Masalah ini sudah sampai kepada walikelas Afif sendiri. Dan juga orang tua afif sudah dipanggil kenapa dia selalu datang terlambat. Alasan afif dengan orang tuanya berbeda. Afif selalu pergi dari rumah tepat waktu. Ternyata afif mampir dulu ke kedai depan sekolah, merokok dan pengaruh dari teman-temannya yang lain. Afif membuat surat perjanjian agar tidak mengulangi masalah ini lagi di depan orang tuanya. Dan jika di ulangi lagi afif akan menerima resiko dari perbuatannya. Afif akan dilaporkan kepada wakil kesiswaan jika masalah ini terulang lagi. Dan ketika saya piket di hari Senin, ternyata afif tidak mengikuti upacara bendera. Dan kelihatan takut, berlari kebelakang sekolah karena telat datang untuk mengikuti upacara. Saya selaku guru piket mencari Afif dan menemukannya dibelakang kelas. Afif memohon kepada saya agar tidak melaporkan saya ke wakil sekolah. Saya menjadi bingung dengan keputusan apa yang akan saya ambil untuk Afif. Di satu sisi ia sudah melanggar aturan sekolah sanksinya pun akan dilaporkan ke wakil kesiswaan. Di satu sisi saya kasihan dengan Afif karena anaknya tidak pelawan dan sifat Ayahnya yang pemarah jika mengetahui anaknya berulah lagi.

b. Analisis Studi Kasus

1. Keputusan yang saya ambil?

Saya tidak mengadukan peristiwa tersebut ke wakil dan guru BK karena kasihan dengan sanksi yang akan ia terima. Akan tetapi, saya memberikan coaching kepada dia terlebih dahulu sehingga ia mampu menemukan solusi dan memutuskan sendiri permasalahannya untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi.

2. Prinsip yang saya gunakan, dan mengapa?

Prinsip berpikir berbasis rasa peduli, karena saya peduli dengan masa depan anak itu dan ketidaknyamanannya apabila mendapatkan resiko dari sekolah yang bisa saja afif dikeluarkan dari sekolah serta ditambah lagi dengan kemarahan ayahnya (tempramen) yang harus ia hadapi.

3. 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan pada kasus:

  • Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut: Nilai peraturan dan empati

  • Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi tersebut: Guru (saya) dan siswa tersebut.

  • Fakta-fakta yang relevan dengan situasi tersebut: Afif kembali datang terlambat dan tidak mengikuti upacara bendera dan ia melanggar salah satu peraturan sekolah. Ia memohon untuk tidak dilaporkan ke Wakil Kesiswaan dan Guru BK, karena ia sudah melanggar beberapa kali, jika berbuat lagi harus menerima sanksi dipanggil orang tua dan ke luar dari sekolah.

  • Pengujian benar atau salah
         a. Uji legal: tidak ada pelanggaran hukum.

         b. Uji regulasi: ada aspek pelanggaran peraturan sekolah

         c. Uji intuisi: keputusan ini diambil sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini.

    d. Uji halaman depan koran: merasa nyaman saja bila dipublikasikan karena sudah  menciptakan kenyamanan buat murid.

        e. Uji panutan/idola: Jika hal ini terjadi pada anak saya sendiri, maka keputusan yang diambil tetap sama.

  • Pengujian paradigma benar lawan benar: Jangka pendek lawan jangka panjang.
  • Prinsip resolusi yang dipakai: Berpikir berbasis rasa peduli.
  • Investigasi opsi trilema: Melaporkan ke wakil kepala sekolah dan guru Bk karena sudah melanggar peraturan sekolah beberapa kali.
  • Buat keputusan: memberikan kesempatan pada Afif untuk berubah dengan cara pemberian coaching kepada dia, sehingga dia berani mengambil keputusan yang membuat dia nyaman dan tidak keluar dari sekolah.
  • Lihat lagi keputusan dan refleksikan: keputusan ini sudah ditinjau ulang dan telah dilakukan refleksi, keputusannya yang sudah diambil sudah sesuai dan sangat baik karena Afif tidak ingin menerima resiko yang lebih berat karena telah berulang kali melanggar peraturan sekolah. Hal ini juga demi masa depan Afif selanjutnya. Jadi keputusan ini sudah memikirkan jangka panjang tentang masa depan seorang murid.

PERASAAN (FEELINGS)

Perasaan selama melakukan hal-hal baru di sekolah meskipun masih ada kekhawatiran namun berkat dukungan dari rekan guru dan kepala sekolah, serta motivasi dari diri sendiri, saya merasa senang dan bersemangat. Walaupun pada awalnya saya tidak percaya kalau kegiatan ini akan berjalan dengan baik, berkat berkolaborasi yang positif aksi nyata pun bisa terlaksana dengan baik. Perasaan bahagia sekaligus tertantang untuk lebih mengembangkan dan meningkatkan pemahaman diri dan rekan sejawat terkait pengambilan keputusan ini sebagai pemimpin pembelajaran.

PEMBELAJARAN (FINDINGS)

Dengan menerapkan hal-hal baru di sekolah, banyak pembelajaran baru yang didapat menuju ke  perubahan tersebut. Pembelajaran tersebut terkait dengan diri sendiri maupun orang lain. Salah satu pembelajaran baik bagi diri sendiri yaitu awal baik bagi sebuah perubahan adalah berkolaborasi. Melalui berkolaborasi permasalahan tidak akan terasa sesulit yang kita kira dan dengan berkolaborasi ada pembelajaran tentang menyamakan persepsi dalam menyusun langkah atau tahap menuju perubahan. Selain itu, setiap melakukan aksi, baik sosialisasi, mengajak, maupun menerapkan hal-hal baru perlu adanya persiapan yang matang dan terencana dengan maksimal sehingga tujuan tercapai.

PENERAPAN KE DEPAN (FUTURE)

Berkolaborasi merupakan bentuk kegiatan yang sangat berpengaruh dalam menjalankan setiap aksi. Perubahan nyata dalam diri saya yaitu adanya tekad menguatkan kolaborasi sebagai bentuk dukungan dari dan terhadap rekan sejawat. Hal ini penting kaitannya dengan implementasi aksi perubahan ke depannya. Selain itu, rasa optimis yang meningkat terutama terkait peran sebagai pemimpin pembelajaran. Kemudian untuk kedepannya meningkatkan komitmen diri untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik di sekolah, terus berlatih dan perbanyak sharing atau mencari sumber informasi lainnya untuk menambah wawasan serta terus mencoba dan tidak mudah menyerah (tetap berjuang menjadi orang yang bermanfaat).

Salam Guru Penggerak!!!