Pratap Triloka Ki Hadjar Dewantara pada sistem Among yaitu :
2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Pada pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika seorang pendidik, pastinya kita harus Kembali mengingat nilai dan peran seorang guru. Sejatinya guru adalah seorang suri tauladan untuk siswa-siswinya. Prinsip moral dari dalam diri haruslah disesuaikan dengan prinsip etika, rasa peduli, berfikir jangka Panjang. Sekalipun hal tersebut berbenturan dengan peraturan. Namun hal tersebut perlu dicermati, dipahami situasi dan kondisinya. Berlatih bijak agar nantinya tidak memberikan kerugian namun dapat memberikan dampak positif bagi semua pihak. Pengambilan keputusan haruslah dilakukan
6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman
a. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan
Ada 2 alasan
mengapa langkah ini adalah langkah yang penting dalam pengujian keputusan.
Alasan yang pertama, langkah ini mengharuskan kita untuk mengidentifikasi
masalah yang perlu diperhatikan, alih-alih langsung mengambil keputusan tanpa
menilainya dengan lebih saksama. Alasan yang kedua adalah karena langkah ini
akan membuat kita menyaring masalah yang betul-betul berhubungan dengan aspek
moral, bukan masalah yang berhubungan dengan sopan santun dan norma sosial.
Untuk mengenali hal ini bukanlah hal yang mudah. Kalau kita terlalu berlebihan
dalam menerapkan langkah ini, dapat membuat kita menjadi orang yang terlalu
mendewakan aspek moral, sehingga kita akan mempermasalahkan setiap kesalahan
yang paling kecil pun. Sebaliknya bila kita terlalu permisif, maka kita bisa
menjadi apatis dan tidak bisa mengenali aspek-aspek permasalahan etika
lagi.
Bila kita telah
mengenali bahwa ada masalah moral di situasi tertentu. Pertanyaannya adalah
dilema siapakah ini? Hal yang seharusnya membedakan bukanlah pertanyaan apakah
ini dilema saya atau bukan. Karena dalam hubungannya dengan permasalahan moral,
kita semua seharusnya merasa terpanggil.
Pengambilan
keputusan yang baik membutuhkan data yang lengkap dan detail, seperti misalnya
apa yang terjadi di awal situasi tersebut, bagaimana hal itu terkuak, dan apa
yang akhirnya terjadi, siapa berkata apa pada siapa, kapan mereka
mengatakannya. Data-data tersebut
penting untuk kita ketahui karena dilema etika tidak menyangkut hal-hal yang
bersifat teori, namun ada faktor-faktor pendorong dan penarik yang nyata di
mana data yang mendetail akan bisa menggambarkan alasan seseorang melakukan
sesuatu dan kepribadian seseorang akan tercermin dalam situasi tersebut. Hal
yang juga penting di sini adalah analisis terhadap hal-hal apa saja yang
potensial akan terjadi di waktu yang akan datang.
- Uji Legal, Pertanyaan yang harus diajukan disini adalah apakah dilema etika itu menyangkut aspek pelanggaran hukum. Bila jawabannya adalah iya, maka pilihan yang ada bukanlah antara benar lawan benar, namun antara benar lawan salah. Pilihannya menjadi membuat keputusan yang mematuhi hukum atau tidak, bukannya keputusan yang berhubungan dengan moral.
- Uji Regulasi/Standar Profesional, Bila dilema etika tidak memiliki aspek pelanggaran hukum
di dalamnya, mungkin ada pelanggaran peraturan atau kode etik. Konflik yang
terjadi pada seorang wartawan yang harus melindungi sumber beritanya, seorang agen real estate yang tahu bahwa
seorang calon pembeli potensial sebelumnya telah dihubungi oleh koleganya? Anda
tidak bisa dihukum karena melanggar kode etik profesi Anda, tapi Uji Intuisi.
- Uji Intuisi, Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi
Anda dalam merasakan apakah ada yang salah dengan situasi ini. Apakah tindakan
ini mengandung hal-hal yang akan membuat Anda merasa dicurigai. Uji intuisi ini
akan mempertanyakan apakah tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai
yang Anda yakini. Walaupun mungkin Anda
tidak bisa dengan jelas dan langsung menunjuk permasalahannya ada di mana.
Langkah ini, untuk banyak orang, sangat umum dan bisa diandalkan untuk melihat
dilema etika yang melibatkan dua nilai yang sama-sama benar.
- Uji Halaman Depan Koran, Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan ini
dipublikasikan pada halaman depan dari koran dan sesuatu yang Anda anggap
merupakan ranah pribadi Anda tiba-tiba menjadi konsumsi masyarakat? Bila Anda
merasa tidak nyaman membayangkan hal itu akan terjadi, kemungkinan besar Anda
sedang menghadapi dilema etika.
- Uji Panutan/Idola, Dalam langkah ini, Anda akan membayangkan apa yang akan
dilakukan oleh seseorang yang merupakan panutan Anda, misalnya ibu Anda.
Tentunya di sini fokusnya bukanlah pada ibu Anda, namun keputusan apa yang
kira-kira akan beliau ambil, karena beliau adalah orang yang menyayangi Anda
dan orang yang sangat berarti bagi Anda
Pentingnya mengidentifikasi paradigma, ini bukan hanya mengelompokkan permasalahan namun membawa penajaman pada fokus kenyataan bahwa situasi ini betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.
f. Melakukan Prinsip Resolusi
Melakukan tiga prinsip penyelesaian dilema yaitu berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking), berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thingking), berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thingking)
Mencari opsi yang ada di antara 2 opsi. Apakah ada cara
untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian
yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di
tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah
Ketika keputusan sudah diambil. Lihat kembali proses
pengambilan keputusan dan ambil pelajarannya untuk dijadikan acuan bagi
kasus-kasus selanjutnya.
7. Apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Kesulitan yang
mungkin saya hadapi dalam pengambilan keputusan adalah belum terbiasanya
mengambill keputusan dalam masalah yang besar, karena masih kurang rasa percaya
diri dan belum terbiasa mengambil keputusan yang mengacu pada paradigma dan
juga prinsip serta mengikuti langkah-langkah yang dianjurkan. dan juga adanya
ketidaksamaan dalam paradigma (sudut pandang) guru dan kepala sekolah
khususnya. Untuk membuat keputusan berbasis etika, diperlukan kesamaan visi,
budaya, dan nilai-nilai yang dianggap penting dalam sebuah institusi, sehingga
prinsip-prinsip dasar yang menjadi acuan juga akan lebih jelas. Jika tidak ada
kesamaan paradigma, dikhawatirkan kasus dilema etika akan memicu konflik yang
tidak diharapkan di lingkungan sekolah.
8. Dan pada
akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan
pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?
Setiap pengambilan keputusan yang kita ambil diharapkan
dapat memberikan pengaruh terhadap pengajaran yang memerdekakan murid-murid
kita. Pengambilan keputusan yang tepat akan memberikan dampak positif terhadap
pembelajaran dan berpihak pada murid. Secara tidak langsung, anak akan meniru
gurunya dan menjadikannya role model dalam pengambilan keputusan, baik dalam
sikap, perkataan dan perbuatan,nilai-nilai yang dianut dan sebagainya.
9. Bagaimana
seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi
kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan
diharapkan dapat mempengaruhi kehidupan
atau masa depan murid-muridnya. Setiap keputusan yang diambil merujuk pada
terciptanya generasi masa depan gemilang dengan jiwa kepemimpinan yang handal
sebagai bekal murid dalam menjalani
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara demi terbentuknya profil
Pelajar Pancasila.
10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Dalam melaksanakan proses pendidikan, seorang pendidik harus mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar muridnya serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Kompetensi Sosial emosional seperti kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills) merupakan hal yang sangat penting untuk diterapkan dalam proses pengambilan keputusan sehingga proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindfullness), sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada serta mampu memberikan kebahagiaan pada semua pihak baik bagi diris endiri maupun orang lain khususnya murid. Selain itu, sebagai seorang guru sudah seharusnya mengubah mindset, bahwa pembelajaran yang dilakukan adalah bentuk dari coaching.
Melalui coaching ini guru sebagai pemimpin pembelajaran dapat membantu murid dalam
mencari solusi atas masalahnya sendiri. Dalam hal ini guru harus memberikan
bimbingan agar murid bisa mengambil keputusan terbaik bagi kehidupannya di masa
kini dan masa depan. Dengan demikian, pengambilan keputusan dalam pengajaran
yang memerdekakan murid haruslah benar-benar berpusat pada murid. Hal ini
sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara.
Sekian Terima Kasih
FITRIA, CGP Angkatan 4
Kabupaten Agam
