Berkreasi Dengan TIK

Hayy..."Blog ICT yunior High School 1 Baso...Cayhooo :-)"

Kamis, 07 Juli 2022

AKSI NYATA MODUL 3.1

Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Oleh :

FITRIA

CGP Angkatan 4

Kabupaten Agam


Melalui modul yang sudah dipelajari tentang Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran, Calon Guru Penggeraknya (CGP) diminta membuat portofolio aksi nyata berdasarkan rancangan yang sudah dibuat pada tahap demonstrasi kontekstual sebelumnya. Portofolio yang disusun menggunakan metode refleksi 4P, yaitu Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, dan Perubahan.

Berdasarkan rancangan yang telah dibuat, saya pun melakukan serangkaian aksi nyata. Aksi nyata tersebut adalah sebagai berikut:

PERISTIWA (FACTS)

Deskripsi singkat untuk aksi nyata yang sudah dilakukan, yaitu:

1.    Latar Belakang tentang Situasi yang Dihadapi

Pengambilan sutau keputusan yang efektif merupakan salah satu tugas tersulit yang harus diemban oleh seorang pemimpin pembelajaran. Hal tersebut juga dialami di sekolah saya. Bukan saja dialami oleh Kepala Sekolah melainkan warga sekolah lainnya termasuk guru. Karena guru adalah seorang pendidik sebagai pemimpin pembelajaran yang juga senantiasa harus jeli dan bijaksana dalam mengambil keputusan yang berpihak pada murid. Kenyataan menunjukkan bahwa masih ada rekan guru yang belum memahami perbedaan antara kasus yang tergolong dilema etika atau bujukan moral dalam pengambilan keputusan. Selain itu masih banyak juga yang belum memahami tentang langkah-langkah yang tepat dalam pengambilan keputusan. Tidak jarang beberapa keputusan yang diambil masih kurang tepat. Oleh karena itu, memerlukan upaya untuk meningkatkan pemahaman warga sekolah (terutama guru) terkait pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Guru merupakan seorang pendidik yang menjadi panutan/teladan bagi murid. Perlakuan berlandaskan nilai-nilai kebajikan universal dalam pengambilan suatu keputusan terhadap murid akan menjadi tolak ukur dan keteladanan bagi murid. Dengan demikian, guru harus memiliki keterampilan dalam pengambilan keputusan yang tepat sebagai pemimpin pembelajaran, terutama yang berdampak pada murid.

2.    Alasan Melakukan Aksi Tersebut

Aksi nyata 3.1.a.10 “Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran” merupakan langkah dan upaya yang saya lakukan untuk mengimplementasikan apa yang sudah didapat pada program guru penggerak secara bertahap dan sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Kemudian saya ingin berbagi ilmu dan pengalaman dengan rekan guru atau komunitas praktisi di sekolah saya agar mereka juga bisa menerapkan pengambilan keputusan yang efektif dan berpihak pada murid agar murid merasa aman dan nyaman baik di lingkungan sekolah maupun dalam kelasnya (proses pembelajaran). Selain itu, saya juga berbagi ilmu dan pengalaman dengan murid-murid saya agar mereka dalam mengambil keputusan juga harus jeli dan teliti serta tepat sasaran. Dengan berbagi pengetahuan dan pengalaman akan berpengaruh bagi murid kita dalam hal contoh praktik pengambilan keputusan yang efektif dan bijaksana. Kita pun bisa menuntun mereka ke arah yang lebih baik dalam sewaktu mereka akan mengambil atau memutuskan sesuatu kasus atau permasalahan yang mereka hadapi. Hal itu juga menuntun mereka agar lebih mandiri dalam mengambil suatu keputusan.

3.    Hasil Aksi Nyata yang Dilakukan

1)      Berkoordinasi dengan Kepala Sekolah

Berkoordinasi dengan Kepala Sekolah merupakan suatu hal yang sangat penting bagi saya. Karena di samping Kepala sekolah sebagai pimpinan di sekolah, ia juga saya juga   pendukung utama saya semenjak saya mengikuti pelatihan guru penggerak. Dia juga sering  memberikan dorongan atau motivasi selama saya menjalankan Program Pendidikan Guru Penggerak. Saya melakukan aksi nyata ini sebagai bentuk tugas dan tanggung jawab saya sebagai guru atau pemimpin pembelajaran. Selain itu, juga untuk mendapatkan dukungan dalam pelaksanaan aksi nyata yang sudah dirancang sebelumnya. Ternyata, Kepala Sekolah saya menyetujui semua rancangan yang sudah saya buat. Pada awal sekolah saya menemui beliau dan sekaligus minta izin untuk mengadakan sosialisasi dengan warga sekolah.

2) Melakukan sosialisasi tentang “Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran”

Pada minggu pertama awal sekolah setelah Idul Fitri, saya mengadakan sosialisasi tentang materi “Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran” dengan komunitas praktisi dan murid-murid. Jadi diharapkan semakin banyak  rekan guru yang terinspirasi dan termotivasi mengenai apa yang sudah di dapat pada program guru penggerak. Langkah pemberian sosialisasi di sekolah secara langsung  saya ambil untuk menguatkan pemahaman tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Hal ini mengingat pemahaman tentang pengambilan keputusan secara efektif ini masih membutuhkan penguatan secara langsung kepada warga sekolah, terutama guru dan murid-murid di sekolah. Hasil dari aksi ini adalah adanya pemahaman kepada mereka tentang bagaimana langkah mengambil suatu keputusan bagi guru yang berpihak pada murid dan bagi murid dapat menuntun mereka dalam mengambil keputusan secara efektif dan mandiri yang bermanfaat buat masa depan mereka kelak hidup sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Foto







3) Membuka Ruang Diskusi Positif dan Ruang Kolaboratif Antar Guru

Dalam kegiatan ini kami berkolaborasi dalam hal menganalisis kasus yang ditemui rekan guru. Saling memberikan masukan terhadap kasus yang ditemui rekan guru agar berpihak pada murid dan keputusan yang mereka ambil tidak salah sasaran atau kurang tepat. Selain itu, kegiatan ini bertujuan memberikan kemudahan kepada rekan sejawat untuk menjalani proses pembelajaran yang berpihak pada murid sehingga tercipta pembelajaran yang membuat murid aman dan nyaman dan terwujudnya pembelajaran yang memerdekakan murid. Kemudian kami juga melakukan pertemuan evaluasi dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana penerapan pengambilan keputusan oleh rekan sejawat, termasuk kendala yang dihadapi. Hasil kegiatan ini adalah tergambarnya keberhasilan dan kendala yang ada. Hal ini juga sekaligus untuk mengukur efektivitas keberhasilan pengambilan keputusan.

4) Penerapan Pengambilan Keputusan

Selain memberikan contoh-contoh kepada rekan guru tentang pengambilan keputusan, saya juga menjelaskan penerapan pengambilan keputusan menggunakan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan ketika dihadapkan pada situasi dilema etika yang pernah terjadi.

a. Kasus

Afif adalah siswa kelas VIII. Afif selalu datang terlambat ke sekolah, baik pada hari senin pada saat pelaksanaan upacara bendera begitupun dengan hari lainnya. Afif telah dipanggil dan ditanya apa alasannya terlambat datang, afif selalu beralasan karena masalah transportasi. Masalah ini sudah sampai kepada walikelas Afif sendiri. Dan juga orang tua afif sudah dipanggil kenapa dia selalu datang terlambat. Alasan afif dengan orang tuanya berbeda. Afif selalu pergi dari rumah tepat waktu. Ternyata afif mampir dulu ke kedai depan sekolah, merokok dan pengaruh dari teman-temannya yang lain. Afif membuat surat perjanjian agar tidak mengulangi masalah ini lagi di depan orang tuanya. Dan jika di ulangi lagi afif akan menerima resiko dari perbuatannya. Afif akan dilaporkan kepada wakil kesiswaan jika masalah ini terulang lagi. Dan ketika saya piket di hari Senin, ternyata afif tidak mengikuti upacara bendera. Dan kelihatan takut, berlari kebelakang sekolah karena telat datang untuk mengikuti upacara. Saya selaku guru piket mencari Afif dan menemukannya dibelakang kelas. Afif memohon kepada saya agar tidak melaporkan saya ke wakil sekolah. Saya menjadi bingung dengan keputusan apa yang akan saya ambil untuk Afif. Di satu sisi ia sudah melanggar aturan sekolah sanksinya pun akan dilaporkan ke wakil kesiswaan. Di satu sisi saya kasihan dengan Afif karena anaknya tidak pelawan dan sifat Ayahnya yang pemarah jika mengetahui anaknya berulah lagi.

b. Analisis Studi Kasus

1. Keputusan yang saya ambil?

Saya tidak mengadukan peristiwa tersebut ke wakil dan guru BK karena kasihan dengan sanksi yang akan ia terima. Akan tetapi, saya memberikan coaching kepada dia terlebih dahulu sehingga ia mampu menemukan solusi dan memutuskan sendiri permasalahannya untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi.

2. Prinsip yang saya gunakan, dan mengapa?

Prinsip berpikir berbasis rasa peduli, karena saya peduli dengan masa depan anak itu dan ketidaknyamanannya apabila mendapatkan resiko dari sekolah yang bisa saja afif dikeluarkan dari sekolah serta ditambah lagi dengan kemarahan ayahnya (tempramen) yang harus ia hadapi.

3. 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan pada kasus:

  • Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut: Nilai peraturan dan empati

  • Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi tersebut: Guru (saya) dan siswa tersebut.

  • Fakta-fakta yang relevan dengan situasi tersebut: Afif kembali datang terlambat dan tidak mengikuti upacara bendera dan ia melanggar salah satu peraturan sekolah. Ia memohon untuk tidak dilaporkan ke Wakil Kesiswaan dan Guru BK, karena ia sudah melanggar beberapa kali, jika berbuat lagi harus menerima sanksi dipanggil orang tua dan ke luar dari sekolah.

  • Pengujian benar atau salah
         a. Uji legal: tidak ada pelanggaran hukum.

         b. Uji regulasi: ada aspek pelanggaran peraturan sekolah

         c. Uji intuisi: keputusan ini diambil sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini.

    d. Uji halaman depan koran: merasa nyaman saja bila dipublikasikan karena sudah  menciptakan kenyamanan buat murid.

        e. Uji panutan/idola: Jika hal ini terjadi pada anak saya sendiri, maka keputusan yang diambil tetap sama.

  • Pengujian paradigma benar lawan benar: Jangka pendek lawan jangka panjang.
  • Prinsip resolusi yang dipakai: Berpikir berbasis rasa peduli.
  • Investigasi opsi trilema: Melaporkan ke wakil kepala sekolah dan guru Bk karena sudah melanggar peraturan sekolah beberapa kali.
  • Buat keputusan: memberikan kesempatan pada Afif untuk berubah dengan cara pemberian coaching kepada dia, sehingga dia berani mengambil keputusan yang membuat dia nyaman dan tidak keluar dari sekolah.
  • Lihat lagi keputusan dan refleksikan: keputusan ini sudah ditinjau ulang dan telah dilakukan refleksi, keputusannya yang sudah diambil sudah sesuai dan sangat baik karena Afif tidak ingin menerima resiko yang lebih berat karena telah berulang kali melanggar peraturan sekolah. Hal ini juga demi masa depan Afif selanjutnya. Jadi keputusan ini sudah memikirkan jangka panjang tentang masa depan seorang murid.

PERASAAN (FEELINGS)

Perasaan selama melakukan hal-hal baru di sekolah meskipun masih ada kekhawatiran namun berkat dukungan dari rekan guru dan kepala sekolah, serta motivasi dari diri sendiri, saya merasa senang dan bersemangat. Walaupun pada awalnya saya tidak percaya kalau kegiatan ini akan berjalan dengan baik, berkat berkolaborasi yang positif aksi nyata pun bisa terlaksana dengan baik. Perasaan bahagia sekaligus tertantang untuk lebih mengembangkan dan meningkatkan pemahaman diri dan rekan sejawat terkait pengambilan keputusan ini sebagai pemimpin pembelajaran.

PEMBELAJARAN (FINDINGS)

Dengan menerapkan hal-hal baru di sekolah, banyak pembelajaran baru yang didapat menuju ke  perubahan tersebut. Pembelajaran tersebut terkait dengan diri sendiri maupun orang lain. Salah satu pembelajaran baik bagi diri sendiri yaitu awal baik bagi sebuah perubahan adalah berkolaborasi. Melalui berkolaborasi permasalahan tidak akan terasa sesulit yang kita kira dan dengan berkolaborasi ada pembelajaran tentang menyamakan persepsi dalam menyusun langkah atau tahap menuju perubahan. Selain itu, setiap melakukan aksi, baik sosialisasi, mengajak, maupun menerapkan hal-hal baru perlu adanya persiapan yang matang dan terencana dengan maksimal sehingga tujuan tercapai.

PENERAPAN KE DEPAN (FUTURE)

Berkolaborasi merupakan bentuk kegiatan yang sangat berpengaruh dalam menjalankan setiap aksi. Perubahan nyata dalam diri saya yaitu adanya tekad menguatkan kolaborasi sebagai bentuk dukungan dari dan terhadap rekan sejawat. Hal ini penting kaitannya dengan implementasi aksi perubahan ke depannya. Selain itu, rasa optimis yang meningkat terutama terkait peran sebagai pemimpin pembelajaran. Kemudian untuk kedepannya meningkatkan komitmen diri untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik di sekolah, terus berlatih dan perbanyak sharing atau mencari sumber informasi lainnya untuk menambah wawasan serta terus mencoba dan tidak mudah menyerah (tetap berjuang menjadi orang yang bermanfaat).

Salam Guru Penggerak!!!

 

Tidak ada komentar: