Pengambilan
Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran
Oleh :
FITRIA
CGP Angkatan 4
Kabupaten Agam
Melalui
modul yang sudah dipelajari tentang Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin
Pembelajaran, Calon Guru Penggeraknya (CGP) diminta membuat portofolio aksi
nyata berdasarkan rancangan yang sudah dibuat pada tahap demonstrasi
kontekstual sebelumnya. Portofolio yang disusun menggunakan metode refleksi 4P,
yaitu Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, dan Perubahan.
Berdasarkan
rancangan yang telah dibuat, saya pun melakukan serangkaian aksi nyata. Aksi
nyata tersebut adalah sebagai berikut:
PERISTIWA
(FACTS)
Deskripsi singkat untuk aksi
nyata yang sudah dilakukan, yaitu:
1. Latar
Belakang tentang Situasi yang Dihadapi
Pengambilan
sutau keputusan yang efektif merupakan salah satu tugas tersulit yang harus
diemban oleh seorang pemimpin pembelajaran. Hal tersebut juga dialami di
sekolah saya. Bukan saja dialami oleh Kepala Sekolah melainkan warga sekolah
lainnya termasuk guru. Karena guru adalah seorang pendidik sebagai pemimpin
pembelajaran yang juga senantiasa harus jeli dan bijaksana dalam mengambil keputusan
yang berpihak pada murid. Kenyataan menunjukkan bahwa masih ada rekan guru yang
belum memahami perbedaan antara kasus yang tergolong dilema etika atau bujukan
moral dalam pengambilan keputusan. Selain itu masih banyak juga yang belum
memahami tentang langkah-langkah yang tepat dalam pengambilan keputusan. Tidak
jarang beberapa keputusan yang diambil masih kurang tepat. Oleh karena itu,
memerlukan upaya untuk meningkatkan pemahaman warga sekolah (terutama guru)
terkait pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.
Guru
merupakan seorang pendidik yang menjadi panutan/teladan bagi murid. Perlakuan
berlandaskan nilai-nilai kebajikan universal dalam pengambilan suatu keputusan terhadap
murid akan menjadi tolak ukur dan keteladanan bagi murid. Dengan demikian, guru
harus memiliki keterampilan dalam pengambilan keputusan yang tepat sebagai
pemimpin pembelajaran, terutama yang berdampak pada murid.
2. Alasan
Melakukan Aksi Tersebut
Aksi
nyata 3.1.a.10 “Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran” merupakan
langkah dan upaya yang saya lakukan untuk mengimplementasikan apa yang sudah
didapat pada program guru penggerak secara bertahap dan sesuai dengan kondisi
yang dihadapi. Kemudian saya ingin berbagi ilmu dan pengalaman dengan rekan
guru atau komunitas praktisi di sekolah saya agar mereka juga bisa menerapkan
pengambilan keputusan yang efektif dan berpihak pada murid agar murid merasa
aman dan nyaman baik di lingkungan sekolah maupun dalam kelasnya (proses
pembelajaran). Selain itu, saya juga berbagi ilmu dan pengalaman dengan
murid-murid saya agar mereka dalam mengambil keputusan juga harus jeli dan
teliti serta tepat sasaran. Dengan berbagi pengetahuan dan pengalaman akan
berpengaruh bagi murid kita dalam hal contoh praktik pengambilan keputusan yang
efektif dan bijaksana. Kita pun bisa menuntun mereka ke arah yang lebih baik
dalam sewaktu mereka akan mengambil atau memutuskan sesuatu kasus atau
permasalahan yang mereka hadapi. Hal itu juga menuntun mereka agar lebih
mandiri dalam mengambil suatu keputusan.
3. Hasil Aksi
Nyata yang Dilakukan
1)
Berkoordinasi dengan Kepala Sekolah
Berkoordinasi dengan Kepala Sekolah merupakan suatu hal yang sangat penting bagi saya. Karena di samping Kepala sekolah sebagai pimpinan di sekolah, ia juga saya juga pendukung utama saya semenjak saya mengikuti pelatihan guru penggerak. Dia juga sering memberikan dorongan atau motivasi selama saya menjalankan Program Pendidikan Guru Penggerak. Saya melakukan aksi nyata ini sebagai bentuk tugas dan tanggung jawab saya sebagai guru atau pemimpin pembelajaran. Selain itu, juga untuk mendapatkan dukungan dalam pelaksanaan aksi nyata yang sudah dirancang sebelumnya. Ternyata, Kepala Sekolah saya menyetujui semua rancangan yang sudah saya buat. Pada awal sekolah saya menemui beliau dan sekaligus minta izin untuk mengadakan sosialisasi dengan warga sekolah.
2)
Melakukan sosialisasi tentang “Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin
Pembelajaran”
Pada
minggu pertama awal sekolah setelah Idul Fitri, saya mengadakan sosialisasi
tentang materi “Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran” dengan
komunitas praktisi dan murid-murid. Jadi diharapkan semakin banyak rekan guru yang terinspirasi dan termotivasi
mengenai apa yang sudah di dapat pada program guru penggerak. Langkah pemberian
sosialisasi di sekolah secara langsung saya ambil untuk menguatkan
pemahaman tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Hal ini
mengingat pemahaman tentang pengambilan keputusan secara efektif ini masih
membutuhkan penguatan secara langsung kepada warga sekolah, terutama guru dan
murid-murid di sekolah. Hasil dari aksi ini adalah adanya pemahaman kepada
mereka tentang bagaimana langkah mengambil suatu keputusan bagi guru yang
berpihak pada murid dan bagi murid dapat menuntun mereka dalam mengambil
keputusan secara efektif dan mandiri yang bermanfaat buat masa depan mereka
kelak hidup sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Foto
3)
Membuka Ruang Diskusi Positif dan Ruang Kolaboratif Antar Guru
Dalam kegiatan ini kami berkolaborasi dalam hal menganalisis kasus yang ditemui rekan guru. Saling memberikan masukan terhadap kasus yang ditemui rekan guru agar berpihak pada murid dan keputusan yang mereka ambil tidak salah sasaran atau kurang tepat. Selain itu, kegiatan ini bertujuan memberikan kemudahan kepada rekan sejawat untuk menjalani proses pembelajaran yang berpihak pada murid sehingga tercipta pembelajaran yang membuat murid aman dan nyaman dan terwujudnya pembelajaran yang memerdekakan murid. Kemudian kami juga melakukan pertemuan evaluasi dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana penerapan pengambilan keputusan oleh rekan sejawat, termasuk kendala yang dihadapi. Hasil kegiatan ini adalah tergambarnya keberhasilan dan kendala yang ada. Hal ini juga sekaligus untuk mengukur efektivitas keberhasilan pengambilan keputusan.
4)
Penerapan Pengambilan Keputusan
Selain memberikan
contoh-contoh kepada rekan guru tentang pengambilan keputusan, saya juga
menjelaskan penerapan pengambilan keputusan menggunakan 4 paradigma, 3 prinsip
dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan ketika dihadapkan pada
situasi dilema etika yang pernah terjadi.
a. Kasus
Afif
adalah siswa kelas VIII. Afif selalu datang terlambat ke sekolah, baik pada
hari senin pada saat pelaksanaan upacara bendera begitupun dengan hari lainnya.
Afif telah dipanggil dan ditanya apa alasannya terlambat datang, afif selalu
beralasan karena masalah transportasi. Masalah ini sudah sampai kepada
walikelas Afif sendiri. Dan juga orang tua afif sudah dipanggil kenapa dia
selalu datang terlambat. Alasan afif dengan orang tuanya berbeda. Afif selalu
pergi dari rumah tepat waktu. Ternyata afif mampir dulu ke kedai depan sekolah,
merokok dan pengaruh dari teman-temannya yang lain. Afif membuat surat
perjanjian agar tidak mengulangi masalah ini lagi di depan orang tuanya. Dan
jika di ulangi lagi afif akan menerima resiko dari perbuatannya. Afif akan
dilaporkan kepada wakil kesiswaan jika masalah ini terulang lagi. Dan ketika
saya piket di hari Senin, ternyata afif tidak mengikuti upacara bendera. Dan
kelihatan takut, berlari kebelakang sekolah karena telat datang untuk mengikuti
upacara. Saya selaku guru piket mencari Afif dan menemukannya dibelakang kelas.
Afif memohon kepada saya agar tidak melaporkan saya ke wakil sekolah. Saya
menjadi bingung dengan keputusan apa yang akan saya ambil untuk Afif. Di satu
sisi ia sudah melanggar aturan sekolah sanksinya pun akan dilaporkan ke wakil
kesiswaan. Di satu sisi saya kasihan dengan Afif karena anaknya tidak pelawan
dan sifat Ayahnya yang pemarah jika mengetahui anaknya berulah lagi.
b. Analisis Studi Kasus
1. Keputusan yang saya ambil?
Saya
tidak mengadukan peristiwa tersebut ke wakil dan guru BK karena kasihan dengan
sanksi yang akan ia terima. Akan tetapi, saya memberikan coaching kepada dia
terlebih dahulu sehingga ia mampu menemukan solusi dan memutuskan sendiri
permasalahannya untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi.
2. Prinsip yang saya gunakan,
dan mengapa?
Prinsip
berpikir berbasis rasa peduli, karena saya peduli dengan masa depan anak itu
dan ketidaknyamanannya apabila mendapatkan resiko dari sekolah yang bisa saja
afif dikeluarkan dari sekolah serta ditambah lagi dengan kemarahan ayahnya
(tempramen) yang harus ia hadapi.
3. 9 langkah pengambilan
dan pengujian keputusan pada kasus:
Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut: Nilai peraturan dan empati
Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi tersebut: Guru (saya) dan siswa tersebut.
Fakta-fakta yang relevan dengan situasi tersebut: Afif kembali datang terlambat dan tidak mengikuti upacara bendera dan ia melanggar salah satu peraturan sekolah. Ia memohon untuk tidak dilaporkan ke Wakil Kesiswaan dan Guru BK, karena ia sudah melanggar beberapa kali, jika berbuat lagi harus menerima sanksi dipanggil orang tua dan ke luar dari sekolah.
- Pengujian benar atau salah
b. Uji regulasi: ada aspek
pelanggaran peraturan sekolah
c. Uji intuisi: keputusan
ini diambil sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini.
d. Uji
halaman depan koran: merasa nyaman saja bila dipublikasikan karena sudah menciptakan kenyamanan buat murid.
e. Uji
panutan/idola: Jika hal ini terjadi pada anak saya sendiri, maka keputusan yang
diambil tetap sama.
- Pengujian paradigma benar lawan benar: Jangka pendek lawan jangka panjang.
- Prinsip resolusi yang dipakai: Berpikir berbasis rasa peduli.
- Investigasi opsi trilema: Melaporkan ke wakil kepala sekolah dan guru Bk karena sudah melanggar peraturan sekolah beberapa kali.
- Buat keputusan: memberikan kesempatan pada Afif untuk berubah dengan cara pemberian coaching kepada dia, sehingga dia berani mengambil keputusan yang membuat dia nyaman dan tidak keluar dari sekolah.
- Lihat lagi keputusan dan refleksikan: keputusan ini sudah ditinjau ulang dan telah dilakukan refleksi, keputusannya yang sudah diambil sudah sesuai dan sangat baik karena Afif tidak ingin menerima resiko yang lebih berat karena telah berulang kali melanggar peraturan sekolah. Hal ini juga demi masa depan Afif selanjutnya. Jadi keputusan ini sudah memikirkan jangka panjang tentang masa depan seorang murid.
PERASAAN
(FEELINGS)
Perasaan
selama melakukan hal-hal baru di sekolah meskipun masih ada kekhawatiran namun
berkat dukungan dari rekan guru dan kepala sekolah, serta motivasi dari diri
sendiri, saya merasa senang dan bersemangat. Walaupun pada awalnya saya tidak
percaya kalau kegiatan ini akan berjalan dengan baik, berkat berkolaborasi yang
positif aksi nyata pun bisa terlaksana dengan baik. Perasaan bahagia sekaligus
tertantang untuk lebih mengembangkan dan meningkatkan pemahaman diri dan rekan
sejawat terkait pengambilan keputusan ini sebagai pemimpin pembelajaran.
PEMBELAJARAN (FINDINGS)
Dengan
menerapkan hal-hal baru di sekolah, banyak pembelajaran baru yang didapat
menuju ke perubahan tersebut. Pembelajaran tersebut terkait dengan diri
sendiri maupun orang lain. Salah satu pembelajaran baik bagi diri sendiri yaitu
awal baik bagi sebuah perubahan adalah berkolaborasi. Melalui berkolaborasi
permasalahan tidak akan terasa sesulit yang kita kira dan dengan berkolaborasi
ada pembelajaran tentang menyamakan persepsi dalam menyusun langkah atau tahap
menuju perubahan. Selain itu, setiap melakukan aksi, baik sosialisasi,
mengajak, maupun menerapkan hal-hal baru perlu adanya persiapan yang matang dan
terencana dengan maksimal sehingga tujuan tercapai.
PENERAPAN KE DEPAN (FUTURE)
Berkolaborasi
merupakan bentuk kegiatan yang sangat berpengaruh dalam menjalankan setiap
aksi. Perubahan nyata dalam diri saya yaitu adanya tekad menguatkan kolaborasi
sebagai bentuk dukungan dari dan terhadap rekan sejawat. Hal ini penting
kaitannya dengan implementasi aksi perubahan ke depannya. Selain itu, rasa
optimis yang meningkat terutama terkait peran sebagai pemimpin pembelajaran.
Kemudian untuk kedepannya meningkatkan komitmen diri untuk melakukan perubahan
ke arah yang lebih baik di sekolah, terus berlatih dan perbanyak sharing atau
mencari sumber informasi lainnya untuk menambah wawasan serta terus mencoba dan
tidak mudah menyerah (tetap berjuang menjadi orang yang bermanfaat).
Salam
Guru Penggerak!!!

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar